Saturday, 25 January 2014

Sejarah Kerajaan Majapahit



Kerajaan majapahit berdiri pada tahun 1293 M. Munculnya kerajaan majapahit erat hubungannya dengan keruntuhan kerajaan Singhasari. Tokoh yang berperan merintis Majapahit adalah Raden Wijaya, cucu dari Mahisa Campaka. Atas anjuran Arya Wiraraja, Raden Wijaya, menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Tindakan itu sebetulnya merupakan strategi untuk mencari saat yang tepat melakukan serangan balasan.
      Berkat jaminan Bupati Sumenep, Raden Wijaya dan kawan-kawan diterima di Kadiri. Bahkan, selanjutnya ia diperbolehkan membuka hutan Tarik (sekarang trowulan) untuk dijadikan desa. Di desa inilah persiapan untuk menggulingkan Jayakatwang dilakukan. Desa itu pula yang mengawali berdirinya Majapahit.
      Melalui tipu muslihat yang jitu, Raden Wijaya berhasil mengajak pasukan Mongol untuk menyerang Kadiri. Perlu diketahui, kedatangan pasukan Mongol mula-mula adalah menghancurkan Singhasari. Namun, saat pasukan mendarat di Tuban, Singhasari telah hancur. Pasukan gabungan Raden Wijaya dan Mongol berhasil merebut Kadiri. Kemudian, kembali dengan tipu muslihat, pasukan Raden Wijaya berhasil mengusir pasukan Mongol. Saat berpesta pora, pasukan Raden Wijaya melakukan serangan mendadak.
      Dengan kehancuran Kadiri dan kepergian pasukan Mongol, terjadi kekosongan kekuasaan di Jawa Timur. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan baru yang akan disegani di kemudian hari : Kerajaan Majapahit.

F Sumber Sejarah
Berita mengenai Kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber sebagai berikut.
Ø  Prasasti Butak, yang mengisahkan peristiwa keruntuhan Singhasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan Majapahit. Prasasti ini menegaskan keterkaitan antara Singhasari dan Majapahit.
Ø  Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, yang mengisahkan perjuangan Raden Wijaya melawan Kadiri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit.
Ø  Kitab Pararaton, yang menceritakan pemerintahan raja-raja Singhasari dan Majapahit.
Ø  Kitab Negarakertagama, yang menceritakan keadaan Majapahit terutama masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Ø  Berbagai peninggalan berupa bangunan candi dan reruntuhan istana di Trowulan.


F Sistem Pemerintahan
ü  Sri Kertarajasa Jayawardhana
Setelah menjadi raja, Raden Wijaya bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Ia memerintah Majapahit lebih kurang selama 16 tahun. Untuk kedudukannya, ia memperisteri keempat puteri Kertanegara. Melalui pernikahan itu, Kertarajasa menegaskan bahwa tahta Majapahit merupakan kelanjutan Kerajaan Singhasari otomatis menjadi wilayah kekuasaan Majapahit.
Masa pemerintahan Kertarajasa diisi dengan berbagai pergolakan, berupa kemelut politik dan pemberontakan. Pemberontakan antara lain dilakukan oleh teman sepejuangnya dulu, yakni Ranggalawe, Sora, dan Nambi. Pemberontakan itu dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap jabatan yang diberikan raja kepada mereka. Pemberontakan dimulai oleh Ranggalawe kemudian disusul oleh Sora. Meskipun dapat diatasi, kemelut politik tidak kunjung berhenti sampai Kertarajasa wafat.


ü  Sri Jayanegara
     Pengganti Kertarajasa adalah Kala Gemet  yang bergelar Sri Jayanegara. Ia memerintah Majapahit selama lebih kurang 19 tahun. Kemelut politik yang terjadi sejak pemerintahan ayahnya terus berlanjut. Sebagian besar pemberontakan muncul dari kalangan dharmaputra, pejabat kerajaan yang seharusnya berkewajiban mempertahankan keutuhan Majapahit. Secara berturut-turut meletus pemberontakan Juru Demung, Gajah Biru, Nambi, Semi, dan Kuti.
     Dari antara pemberontakan itu, pemberontakan Kuti nyaris mengulang tragedi Singhasari. Istana Majapahit dapat diduduki sehingga Jayanegara terpaksa menyingkir ke Desa Bedander. Dalam kemelut itu, tampil seorang bekel bhayangkari (kepala pasukan pengawal raja) bernama Gajah Mada untuk memadamkan pemberontakan Kuti. Sejak saat itu, karir Gajah Mada terus meningkat.
     Masa pemerintahan Jayanegara berakhir tragis. Ia tewas terbunuh oleh Tanca, salah seorang dharmmaputra. Meskipun demikian, tahta Kerajaan Majapahit dapat diselamatkan.


ü  Tribhuwanottunggadewi
Karena Jayanegara tidak meniggalkan putera, hak tahta   Majapahit berada pada puteri Kertanegara. Putri yang masih hidup bernama Gayatri. Namun, karena sudah menjadi pertapa, tahta kerajaan diwakili oleh puterinya Tribhuwanottunggadewi. Ia memerintah sampai Gayatri meninggal. Setelah itu, tahta harus diserahkan kepada putera Tribhuwanottunggadewi.
Tribhuwanottunggadewi memerintah Majapahit selama lebih kurang 22 tahun. Kemelut politik masih muncul, antara lain pemberontakan Sadeng. Dalam kemelut itu, kembali Gajah Mada, yang sudah menjadi Patih Daha, tampil memadamkan pemberontakan. Atas jasanya itu, Patih Amangkubhumi Arya Tadah mengusulkan kepada ratu agar Gajah Mada menggantikannya.
Kemudian, Gajah Mada pun dilantik menjadi patih amangkubhumi, jabatan tertinggi di Majapahit sesudah raja. Saat pelantikannya, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal itu : Sumpah Palapa. Dalam sumpahnya, Gajah Mada bertekad untuk tidak berhenti beristirahat sampai Nusantara dipersatukan di bawah panji Majapahit. Menjelang akhir pemerintahan Tribhuwanottunggadewi, keadaan Majapahit aman dan sejahtera. Bahkan, kerajaan itu sudah mulai menanamkan pengaruhnya di luar Pulau Jawa. Setelah Gayatri wafat, Tribhuwanottunggadewi menyerahkan tahta Majapahit kepada puteranya, Hayam Wuruk.


ü  Sri Rajasanegara
Hayam Wuruk naik tahta dengan bergelar Sri Rajasanegara. Ia memerintah Majapahit selama 39 tahun. Karena itu, jabatan patih amangkubhumi tetap dipegang Gajah Mada. Keduanya menjadi dwitunggal yang membawa Majapahit menuju puncak kebesarannya.
Di bawah pemerintahan Sri Rajasanegara didampingi Gajah Mada, persatuan Nusantara selangkah-demi selangkah dapat diwujudkan. Akan tetapi, keberhasilan itu sempat dinodai oleh Peristiwa Bubat. Peristiwa yang menyebabkan tewasnya putri dan raja Pajajaran itu sempat meretakkan hubungan Raja dan patih amangkubhumi.  Gajah Mada sempat mengundurkan diri setelah peristiwa itu. Namun, kemudian ia aktif lagi dalam pemerintahan.
Akhir kejayaan Majapahit diawali dengan wafatnya Gajah Mada pada tahun 1364 M. Tidak ada lagi tokoh Majapahit setangguh Gajah Mada. Selama 3 tahun, jabatan patih amangkubhumi lowong. Barulah kemudian Gajah Enggon diangkat menduduki jabatan tersebut.
Majapahit semakin suram dengan wafatnya Rajasanegara pada tahun 1389 M. Selanjutnya, kerajaan diisi oleh kemelut politik berupa pemberontakan dan perang saudara.



F Keruntuhan Kerajaan Majapahit
Sejak abad ke-14 M, Majapahit mengalami kemundura. Penyebabnya antara lain sebagai berikut :
v Sepeninggal Rajasanegara dan Gajah Mada, tidak ada lagi pemimpin yang cakap. Penguasa Majapahit selanjutnya, seperti Wikramawardhana dan Suhita tidak mampu secara tegas menindak pembangkaran Bhre Wirabhumi dari Blambangan. Ketidak tegasan itu mengakibatkan persengketan keluarga yang berlarut-larut.
v Terjadinya persengketan keluarga yang berlarut-larut. Persengketan berawal dengan meletusnya perang saudara yang disebut Perang Paregreg yang berlangsung selama 5 tahun. Walaupun akhirnya dimenangkan oleh Majapahit, persengketaan keluarga tidak kunjung selesai. Setelah Suhita wafat, tahta Majapahit direbut oleh adiknya, Bhre Tumapel. Kemudian, ibu kota Majapahit terpaksa dipindahkan ke Kahuripan, semasa pemerintahan Rajasawardhana.
v Terjadinya kekosongan kekuasaan, sepeninggal Rajasawardhana. Keadaan itu merupakan kelanjutan pertentangan keluarga yang tidak kunjung selesai. Akibatnya, Majapahit tidak mampu mengendalikan wilayah bawahan.
v Munculnya kerajaan Islam Demak dan Malaka yang mengambil alih pusat perdagangan di Nusantara.

Peristiwa runtuhnya Majapahit ditandai oleh serangan pasukan Ranawijaya ke Majapahit yang ketika itu dikuasai oleh Bhre Kertabhumi. Majapahit dapat direbut.  Peristiwa itu diperingati dalam suatu candrasengkala (semacam kalimat sandi) : sirna-ila-kertaning-bhumi, yang berarti 1400 saka (sama dengan 1478 M). Berarti, pada tahun itulah Majapahit runtuh.
Sebetulnya, masih ada penguasa di Majapahit sampai abad ke-16 M. Namun, kerajaan itu tidak memiliki pengaruh lagi. Barulah pada abad ke-16 M, Majapahit sama sekali hancur oleh serangan pasukan Demak di bawah pimpinan Adipati Unus.

0 komentar

Post a Comment