Saturday, 22 February 2014

Belajar dari Kisah Bapak Dino Pati Djalal



          Dino Pati Djalal namanya, ia lahir di Beograd, Yugoslavia, pada 10 September 1965. Ia terlahir dari pasangan Hasyim Djalal, seorang diplomat Indonesia ternama, dan Jurni. Di usia 14 tahun ia adalah seorang pencuci piring di KBRI Washington, namun kini Dino, tukang cuci piring itu telah menjadi orang terpenting di kantor tersebut. 

          Dino adalah seorang yang mandiri, walaupun lahir dari keluarga yang lebih dari cukup. Semenjak ABG ia sudah menginjakkan kaki di AS, disana ia bekerja sampingan sebagai  pelatih tenis, koki di restoran, penjaga tiket bioskop, towel boy di tim basket, dan asisten dosen, ia tak pernah sungkan untuk melakukan hal ini, karena ia adalah tipe orang yang tak ingin merengek-rengek kepada orang tua untuk meminta sejumlah uang dan kini nyata apa yang ayahnya pernah katakana, bahwa Dino adalah anak yang paling beruntung, karena memiliki pengalaman hidup dan pengalaman kerja yang kan membawanya menjadi orang sukses, sekarang terbukti sudah.
          Beliau adalah seorang penggagas dan banyak sekali gagasan-gagasan yang ia lontarkan. Ia pun tak henti mendorong agar generasi muda Indonesia menjadi generasi yang kreatif, generasi yang memeluk bukan menghinadari globalisasi, dan Indonesia menjadi bangsa yang unggul.
          "Ada pepatah: 'Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya'. Saya setuju, tapi saya juga ada definisi sendiri : 'Bangsa yang besar adalah bangsa yang setiap generasinya sepanjang masa selalu bisa menelorkan pahlawan-pahlawan baru'"
(Dino Pati Djalal)

Referensi :


1 komentar

Post a Comment