Tuesday, 29 September 2015

Kena di Tanah Saman



            Suara khas berdesing di rongga telinga tatkala burung besi melaju membumbung tinggi menembus lapisan awan. Perjalanan panjang yang tentu melelahkan, Aceh, Daerah Istimewa disambanginya dengan penuh pengharapan. Sesekali ia memandangi jendela pesawat, hanya hamparan biru yang nampak, seperti yang banyak orang kata, samudera diatas awan.
            Setelah menemukan kesepakatan dalam perdebatan sengit antara ia dan kedua orang tuanya, Kena, begitu ia dipanggil, akhirnya diizinkan oleh orangtuanya untuk menempuh ratusan kilometer menuju daerah terujung Indonesia itu. Impiannya menaklukan jarak demi belajar Tari Saman di tempat asalnya tergenggam sudah.
            Kena tersentak, ternyata kedatangannya disambut bahagia saudara dunia maya yang ia kenal berapa tahun yang lalu di media social. Ini lah detik pertama dan kali pertama pertemuan itu berlangsung. Ternyata parasnya lebih anggun dari yang terlihat di foto. “Assalamu’alaikum Kena,” begitu sapanya terdengar. Rindunya terbayar sudah, ia memeluk Kena erat.
            “Tau kao aku ke sinek?” Katanya dengan ringannya.
            “Maksudnya, Ken?”
            “Oh… sorry, sorry, masih berasa di Pulau Belitung, hehehe. Maksudku, kok kamu tau aku ke sini?” ujar Kena memperbaiki ucapan, Diba terkekeh geli melihat ekspresinya.
            “Lucu kamu ya, hahaha… Tau lah, jangan Tanya dari siapa, itu rahasia.”
            “Syukurlah” begitu yang selalu dituturkan Kena dalam hati mendapat teman seramah Diba di Aceh. Kalau tidak, ntah siapa yang akan memandunya di daerah yang berhak istimewa ini.
            Mereka harus menempuh perjalanan yang cukup lama untuk tiba di kediaman Diba, pematang di atas lembah terlewati, begitupun dengan gubuk-gubuknya, nampak pemandangan indah yang sulit ditemui di Pulau Belitung.
            “Indah ya pemandangannya, Diba,”
            “Belitung juga mempunyai pantai yang indah, Tuhan memang adil menciptakan sesuatu. Dia kasih pemandangan hijau indah disini biar kamu niat main kesini, hehehe.”
            “Dih, bisa aja kamu,”
***
            Tiba diperempatan, suasana Aceh memang berbeda dengan kota Tanjungpandan, Belitung. Lelah kemarin hari masih terasa di tubuh Kena. Tak banyak ia menoleh karena lehernya terasa sakit menggendong tas yang beratnya seabrek.
            “Masih jauh gak sanggarnya, Dib?”
            “Gak, sebentar lagi. Usai  perempatan ini ntar ada simpang tiga, kita belok kiri, terus berapa menit terus ada simpang empat lagi kita belok kanan, nah ntar ada tempat jual cendol tuh disana, aku suka beli disitu, seger banget Ken,” jelasnya panjang labar.
            “Heleh, terus sanggarnya dimana? Ukhti Diba yang Shalihah?”
            “Masih terus lagi, hehehe.”
            Kena menggelengkan kepala melihat kekonyolan Diba. Celotehnya tak bertitik akhir, “imajenasi yang ketinggian,” begitu kata Kena, sebab jika sudah memulai ngobrol susah sekali baginya untuk berhenti. Ada saja topiknya. Kena menganggapnya alunan musik, saking indahnya membuat Kena tak sadar bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Turun dari bis mereka disambut oleh spanduk “Sanggar Tari Saman Aceh” katanya, disinilah para penari Saman diwadahi, mereka belajar dan mengajar. Mata Kena berkaca-kaca, haru.
            Mereka masuk melalui pintu yang dibuka lebar, segera disambut oleh bagian administrasi sanggar. Tujuan, tentu hal ini pertama kali ditanyakan.
            “Aku ingin belajar tari Saman dari tanah kelahirannya.” Jawab Kena begitu mantap saat ditanya. Kakak itu tersenyum mengembang, dan mempersilahkan masuk ke ruang latihan menemui pelatih tari. Derap kakinya perlahan menyambangi pelatih berjilbab panjang di pojok sana.
            Untungnya kakak pelatih itu orang yang ramah, sehingga mudah bagi Kena untuk sekedar mendekatkan diri, merangkai kebahagiaan baru di keluarga baru, Sanggar Tari Saman Aceh.
***
            “Stop!” ditengah latihan kakak pelatih killer, sebut saja namanya Ratri, menempuk-nepukkan tangan sembari memerintahkan mereka untuk berhenti.
            "Ini surat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sanggar kita diperkenankan mengirim satu tim Tari Saman untuk mengikuti kompetisi nasional di Yogyakarta,” katanya mengangkat sebuah surat yang masih terlipat.
            “Yang mana pemenang dari kompetisi ini akan lanjut berjuang untuk tampil ke Jepang, oktober yang akan datang. Dimohon keseriusan dalam berlatih,” sambungnya menjelaskan, kemudian pergi tanpa sepatah “terimakasih” pun. Begitulah, namun wataknya itu membuat tim menjadi focus dalam segala kegiatan latihan. Bahagia, tentu membuncah di hati mereka, tapi Kena, ia menunduk lesu
“Kamu kenapa, Ken? Orang pada seneng semua kamu malah murung gitu,” tutur Aisyah,  sahabat barunya, mendekati dan menanyakan perihal itu.
“Gak apa-apa, aku cuma agak gak siap aja, baru aja berapa hari latihan, baru belajar dasar, udah ada kompetisi setingkat nasional gini, duh…” keluhnya frustasi.
            “Gak apa-apa, Ken. Disini kita saling belajar kok, kita belajar dari kamu yang punya semangat, yang rela nyebrang lautan dan jarak hanya untuk belajar budaya sini, dan kami, dengan senang hati akan mengajarkan, seberapa sulitnya itu kami bakal usahakan. Ya, ayo ayo semangat, ini kesempatan, buat apa kamu kesini kalo bukan untuk suatu kompetisi besar!” kata Aisyah menyemangati. Kena tersenyum lebar seraya mengucap terimakasih dari hati yang tulus.
Latihan kali ini cukup diporsir, seakan tak berjeda, hari biasa jam lima sore Sanggar sudah sepi, tapi kali ini masih berkeliaran penari-penari duduk bertepuk. Jeda, istirahat sebelum adzan maghrib tiba. Walau masih lama waktunya Kena sudah berwudhu, usainya ia duduk di ayunan taman sanggar, tepat dihadapannya ada anggrek ungu nan indah.
“Assalamua’alaikum,” sapa seseorang, suaranya cukup berat, dia lelaki.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Kena datar.
“Nan droe neuh soe?” ucapnya membingungkan. Kena yang tak mengerti mengerutkan kening. Lelaki itu terkekeh sebari duduk di ayunan sebelahya.
“Maksudnya, nama kamu siapa?”
“Oh, Kena,” balas kena singkat. Ada rasa risih di hati Kena. Ia tak biasa disambangi lelaki, apalagi diajak ngobrol berdua dengan lelaki yang baru dikenalnya. Bagi cewek berperawakan tinggi itu, tabu.
Namanya Mandiri, kelas instrument saman yang sama-sama akan berangkat ke Yogya minggu depan. Lelaki bermata cokelat itu terus saja mengajak Kena mengobrol, namun Kena menanggapi dengan amat datar.
Sore itu angin bergitu tenang menyapa kulit, satu jam lagi sunset shower. Mandiri bercerita bahwa ia sangat menikmati saat-saat mentari terbenam di tanah Aceh ini. Baginya sunset itu adalah golden moment.
            Cahaya langit kian meremang, suara adzan pun mulai menggema di segala penjuru Serambi Makkah. Kena yang sedari tadi terpaku menatap langit tanpa terfokus mendengarkan kata-kata Mandiri pun segera bangkit dan bergegas melaksanakan shalat maghrib bersama jamaah lain di mushola Sanggar.
            Lepas remang petang Kena disidang diantara anggota tim, ternyata tadi sore ada kakak pelatih yang menguntitnya bersama Mandiri. Aturan di sanggar tidak boleh ada tim yang memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis, apalagi ketahuan berduaan, di lingkungan sanggar pula. Ini petaka bagi Kena.
            Ia terancam dikeluarkan dari tim dan tak bisa berangkat minggu depan, wajahnya pucat pasi. Di hadapan rombongan, ia dipersilahkan untuk pulang dan berhenti untuk latihan. Pasrah, Kena melangkahkan kakinya gontai.
            “Maaf mengganggu, aku dengar pembicaraan kalian, maaf Kena, ini bukan salahmu. Maaf Ren, aku lah yang mulai ngobrol dengan Kena tadi dia pun tak banyak respond. Kalaupun ada yang harus dikeluarkan dari tim diantara kami, maka aku orang yang pantas,” jelas Mandiri tiba-tiba muncul di hadapan pintu, membuat Kena semakin lemah.
            “Baguslah kalau mengaku, aku akan laporkan ke pelatih instrumen, untuk berangkat minggu depan, apa kau pantas dipertimbangkan atau tidak,” kata Kak Rena, seperti ingin menerkam jantung lelaki berkacamata itu. Mandiri kalut, tanpa salam dan penutup ia bergegas pergi dengan motor besarnya.
            “Ya! Ya! Lupakan! Fokus! Ayo latihan!” Kak Rena yang lumayan killer kembali memporsir tim untuk terus mempersiapkan diri. Seakan persidangan yang mengkalutkan itu tak pernah terjadi, tiada perubahan sikap diantara mereka, semuanya berjalan seperti biasa, seperti apa adanya. Kena lega.
***
            Rangkaian latihan demi latihan terlelawati, pun berbagai berita mengejutkan datang akhir-akhir ini, mulai dari dikeluarkannya Mandiri dari tim hingga masalah lain yang datang melanda tiba-tiba. Tapi hari ini persiapan harus dinyatakan “sudah matang”, harus! Koper-koper sudah diangkut menuju bagasi. Tepat jam 11.20 mereka dengan penuh doa dan pengharapan menaiki tangga pesawat, melambaikan tangan dari kejauhan kepada kerabat dan keluarga. Haru jelas mengiang di dada, namun demi sebuah perjuangan itu harus direlakan dengan ikhlas.
            Senyum Diba mengembang, ia merangkul erat Kena di pesawat.
            “Inilah hasil perjuanganmu, tapi ini bukanlah ukuran bagi seorang Kena, kita mesti menampilkan yang terbaik di Yogya,” kata Diba semangat.
            “Iya InshaaAllah, Dib, makasih ya atas semua kebaikan kamu. Tanpa kamu mana aku kenal sanggar ini dan mungkin aku bisa nyasar kali, ahaha,”
            Perjalanan yang cukup panjang terasa amat melelahkan, namun segera terbayar saat kaki menginjak tanah Jogja kota budaya, kota pelajar ini. Rombongan dari daerah lain sepertinya juga baru sampai. Ada rasa gugup dalam hati Kena dan kawan-kawan melihat wajah-wajah lawannya.
***
            Technical Meeting sudah dilalui, inilah saatnya dimana lampu-lampu diredupkan dan hanya panggung pertunjukkan di hadapanlah yang bercahaya. Satu demi satu peserta daerah lain gagah menampilkan seni budaya masing-masing. Ada yang biasa saja, ada yang bagus, dan ada yang menakjubkan.
            “Dua nomor lagi, Ken, kita akan tampil,” ujar Diba kesenangan.
            “Dib, aku boleh bilang sesuatu gak? Aku kok agak pusing gitu ya?” kata Kena dengan lemas.
            “Ah kamu gugup tuh, ayo semangat! Masa latihan lama datang jauh-jauh dari Pulau Belitung pas udah kompetisi mau tumbang,” oceh Diba menenangkan Kena.
            “Iya, mungkin cuma perasaanku ya, makasih, Dib, aku gak mau hari ini jadi hari dimana aku kalah sama rasa gugup dan takut,” kukuhnya menggenggam erat tangan Diba.
            Tak lama kemudian, nomor urut tim Aceh dipanggil, itu artinya mereka hamper menyapai puncak. Ibaratkan mendaki gunung, maka mereka hanya butuh beberapa langkah lagi untuk sampai ke puncak teratas, ibaratkan tangga, mereka tinggal menaiki berapa anak tangga lagi untuk sampai pada tujuannya.
            Menakjubkan, suara tepukan tarian Saman hampir kalah dengan suara tepuk tangan penonton yang hadir. Masih cukup terlihat dari sinar panggung, para pejabat tinggi yang duduk dihadapan tersenyum mengembang melihat kompaknya gerakan penari-penari Saman ini.
            “Terimakasih,” ucap Diba mengakhiri penampilan tim Tari Saman Aceh, kata penutup itu disambut meriah oleh hadirin. Namun yang terjadi tiba-tiba Kena terbaring di pangkuannya.
            “Ken… Ken… Kamu kenapa?” Diba menggenggorkan tubuh Kena, semua anggota tim kepanikan. Terlebih melihat darah yang mengalir cukup banyak dari hidungnya. Begitupun penonton dan peserta lainnya, mereka tak kalah heboh. Untung saja petugas kesehatan yang dikerahkan cepat bergerak, Kena bisa langsung diangkat keluar panggung pertunjukkan sehingga  tak mengganggu berlangsungnya kompetisi.
***
            Gadis tinggi kurus itu masih meringkuk menyudut dengan mata tertutup. Sedari kemarin, ia tak juga bangun dari tidur panjangnya. Air mata Diba senantiasa meluber ketika menatap wajah sahabatnya itu. Koridor rumah sakit mala mini sepi, tak ada teman-teman tim yang mengisi. Malam ini jadwal pengumuman pemenang lomba malam kemarin. Diba ditugaskan untuk menjaga Kena.
            “Aww… Sss…” suara keluh berdesis terdengar pelan, Diba terkaget.
“Ken… Kena…? Kamu udah sadar?”
“Hari ini pembagian hadiah kan? Ayo Diba kesana, kan gak jauh dari sini, aku mau liat siapa-siapa aja yang dapat juara, terus liat serunya acara penutupan!” celotehnya seperti orang sehat.
“Gak Kena, kamu harus istirahat dulu,” bujuk Diba sedikit kewalahan.
            Bujukan demi bujukan Diba ternyata tak membuahkan hasil, cewe manis itu ternyata luluh dengan kemauan sahabatnya. Kena didudukkan di atas dipan beroda lalu mendorongnyanya menuju tempat acara, melalui koridor panjang, bunyi engsel roda yang berderit-derit menggema, menghasilkan suara yang aneh.
            Di hadapan mereka terpampang suasana yang gemerlap dan meriah, teman-temannya berada di atas panggung dengan iringan tepuk tangan yang begitu hebohnya.
            “Terimakasih atas semua apresasinya, dan mohon maaf sebentar, bagi dua orang dari tim kami yang baru datang silakan naik ke atas panggung untuk bergabung, ini kemenangan kita bersama,” kata Kak Rena dengan senyumnya yang mengembang.
            Diba menangis terharu dengan rasa bahagia ia mendorong korsi roda Kena dan memapahnya untuk menaiki anak tangga panggung megah itu. Kena tampak haru bercampur bahagia, ketika berada di hadapan ratusan peserta dan orang-orang hebat. Sebuah perjuangan panjang baginya untuk ditempuh. Tiket ke Jepang sudah di tangan mereka.
***
            Latihan demi latihan terjalani, tim dari Sanggar Tari Saman sangat bahagia bisa bertemu dan berlatih bersama dengan finalis-finalis dari daerah lain. Mereka menyatu tanpa membedakan latar belakang suku dan budaya, seminggu dilatih oleh orang-orang hebat, mereka seperti satu keluarga. Tepat pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober besok mereka berangkat.

0 komentar

Post a Comment